Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; widget_indexer has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.widgets.php on line 9

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; comment_indexer has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.comment.php on line 3

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; entry_cached_index has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.entry.php on line 3

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; entry_index has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.entry.php on line 36

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; entry_archives has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.entry.php on line 226

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; draft_indexer has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.draft.php on line 6

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; FPDB_QueryParams has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.fpdb.class.php on line 3

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; FPDB_Query has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.fpdb.class.php on line 136

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; FPDB_CommentList has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.fpdb.class.php on line 591

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; FPDB has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.fpdb.class.php on line 637

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; FPDB_transaction has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.fpdb.class.php on line 765

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; plugin_indexer has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/core/core.plugins.php on line 6

Deprecated: Methods with the same name as their class will not be constructors in a future version of PHP; SmartyValidate has a deprecated constructor in /home/vhosts/www.jdid.top/produk/fp-includes/smarty/SmartyValidate.class.php on line 33
Jual beli produk jdid Www.JDid.Top « Kekuatan JD ID

Kekuatan JD ID

Published by seller on 03-01-2018

JD.ID yang merupakan anak usaha dari JD.com asal China mengaku siap bersaing dalam pasar digital atau e-commerce di Indonesia.

Head of Marketing JD.ID, Timothius Martin mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan beberapa strategi untuk bertarung di pasar e-commerce Indonesia yang diprediksi mencapai 130 miliar dollar AS pada 2020 mendatang.

“Simple strategi kami yakni customer experience,” ujar Timothius kepada Kompas.com usai konferensi pers kerja sama JD.ID dengan Citilink di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Menurutnya, sebagai pemain baru dalam industri e-commerce dalam negeri, pihaknya membutuhkan waktu untuk membangun customer experience di Indonesia.

“Memang butuh waktu untuk membangun customer experience tetapi kami yakin dalam waktu yang tidak terlalu lama, kami akan bisa menjadi nomor satu, bukan di produk paling banyak tetapi paling dipercaya, kualitasnya bagus dan customer experience,” paparnya.

Pihaknya juga akan menjalankan strategi lain yakni dengan menjual produk-produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam negeri agar lebih bisa mendekatkan JD.ID pada konsumen di Indonesia.

“Tentu kami akan kembangkan itu dengan pelan pelan, produknya belum bisa kami share, tetapi sebentar lagi kami akan masuk ke kota-kota,” jelasnya.

Pasar e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 130 miliar dollar AS pada tahun 2020. Nilai pasar e-commerce Indonesia akan menjadi yang terbesar nomor tiga di Asia, setelah China dan India.

JD.ID yang merupakan anak usaha dari JD.com asal China menyatakan siap mengikuti aturan perpajakan pada perdagangan digital atau e-commerce di Indonesia.

Head of Marketing JD.ID, Timothius Martin mengatakan, sebagai salah satu pemain industri e-commerce di Indonesia pihaknya tidak bisa dalam posisi yang kontra dengan pembuat kebijakan.

“Kami sebagai pemain e-commerce tidak bisa pro kontra dengan government, kami percaya government pasti akan berikan yang terbaik,” ujar Timothius kepada Kompas.com usai konferensi pers kerja sama JD.ID dengan Citilink di Raffles Hotel, Jakarta, Kamis (31/8/2017).

Dengan demikian, Timothius menegaskan, pihaknya akan menjalankan dan mengikuti aturan perpajakan yang akan dilakukan oleh pemerintah. “Kami juga bermain dalam suatu aturan yang ditetapkan,” jelasnya.

Sebelumnya, Ketua Bidang Sumber Daya Manusia, Pendidikan dan Perlindungan Konsumen, Indonesia E-Commerce Association (idEA) Even Alex Chandra berharap agar pemerintah menerbitkan aturan maupun kebijakan yang tidak menggangu roda bisnis e-commerce di Indonesia yang saat ini sedang tumbuh pesat.

“Kalau memang mau dikenai pajak, sudah semestinya sesuai dengan prinsip peta jalan e-commerce saja. Asing, lokal, semua mendapat perlakuan hukum yang sama,” tegasnya.

Pemerintah telah mengeluarkan aturan dalam bentuk Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 terkait peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik atau Road Map E-Commerce.

Namun demikian, aturan tersebut belum mengatur secara jelas bagaimana teknis pungutan pajak terhadap perdagangan elektronik tersebut.

Mata saya agak terbelalak ketika tak sengaja membaca berita dari Tabloid Nova online (30/10/2014) yang mengabarkan perihal masuknya secara resmi salah satu perusahaan e-commerce terbesar di China—JD.com ke Indonesia.

Saya fikir, dalam program jelajah dunia (worldwide) JD.com yang dicanangkan sejak bulan Juli 2015 ini akan masuk ke Indonesia sekitar tahun 2016-an. Ternyata tidak, ini lebih cepat daripada dugaan saya sebelumnya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, versi Indonesia-pun memakai domain lokal dalam situsnya. Perusahaan ini, menggunakan domain pendek beralamat www.JD.id.

Bagi yang sering mengamati pergerakan bisnis e-commerce dunia, nama JD ini tentu tidak asing lagi. Apalagi pada bulan April 2015 ini, Alibaba–salah satu kompetitor lokalnya di Beijing telah dikalahkannya. Hal ini pula yang akhirnya membuat JD menjadi perusahaan e-commerce terbesar ketiga dunia setelah Amazon dan Ebay.

Pencapaian yang tentu mengejutkan banyak pihak, walau jika dirunut dari sejarah panjangnya di dunia retail e-commerce sebenarnya sebanding dengan perjalanan bisnisnya.

Perusahaan yang didirikan oleh Richard Liu pada Juli 1998 ini mulai masuk ke ranah retail online sekitar tahun 2004 dengan nama Jingdong Mall. Pertama kali hanya berjualan barang-barang magneto-optical yang kemudian mulai mendiversifikasi jualannya ke berbagai produk lain seperti elektronik, smartphonem komputer dan lain sebagainya.

Perubahan jenis-jenis barang yang dijual inilah yang akhirnya membuat Jingdong Mall merubah domain perusahaannya menjadi 360buy.com pada bulan Juni 2007 lalu di tahun 2013 resmi berubah menjadi JD.com

Dengan dengan domain JD.id yang digunakan di Indonesia, tentu ini bukan perkara yang main-main ke pasar Indonesia. Penghadangnya pun tentu juga akan mengeluarkan jurus-jurus perlawanan yang tak main-main pula.

Ya, diakui atau tidak—Indonesia termasuk salah satu negara di dunia yang sangat cepat penerimaan dan penyesuaiannya terhadap bisnis jualan online. Dalam platform yang berbeda, kita sudah teredukasi dengan sistem online shop via aplikasi chat BBM dari Blackberry. Saking populernya sistem jualan online lewat aplikasi chat ini, gelar Indonesia sebagai “Blackberry Country” belum tergantikan dan tergeser. Bahkan sampai detik ini.

Kepercayaan yang tumbuh melalui online shop BBM ini juga secara langsung atau tidak langsung berimbas pada pesatnya pertumbuhan situs e-commerce lain di Indonesia dengan berbagai macam bentuk dan formatnya, antara lain:

1. Business to Consumer (B2C): B2C dapat diartikan sebagai jenis perdagangan elektronik di mana ada sebuah perusahaan (business) yang melakukan penjualan langsung barang-barangnya kepada pembeli (consumer).

Contoh perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan B2C Blibli, Lazada, Mataharimall, Blanja dan termasuk JD.id yang baru meluncur ini.

2. Business to Business (B2B) adalah sistem komunikasi bisnis on-line antar pelaku bisnis,. E-commerce penjual dan pembelinya adalah organisasi/perusahaan pada umumnya transaksi dilakukan oleh para trading partners yang sudah saling kenal dengan format data yang telah disepakati bersama. Contohnya: Garuda Online Sale (GOS) atau hartonoelektronika.com

3. Consumer-to-Consumer(C2C): E-commerce dimana seorang menjual produk atau jasa ke orang lain, Merupakan sistem komunikasi dan transaksi bisnis antar konsumen untuk memenuhi kebutuhan tertentu pada saat tertentu. Contoh yang telah menerapkan C2C adalah Tokopedia atau OLX.

Nah, para pemain lokal e-commerce ini, khususnya sesama berkonsep B2C ini saya yakin tidak akan tinggal diam dengan masuknya JD.id ini.

Saya perhatikan, Tokopedia yang bermain di kelas C2C sendiri sudah menebar banyak baliho promosinya. Bahkan saya duga, anggaran promosi digital Matahari Mall untuk memperkenalkan perusahaannya juga sangat besar. Terbukti setiap masuk ke laman google pencarian atau situs lainnya, iklan mereka muncul dimana-mana.

Wajar memang, apalagi dalam dunia internet ini—salah satu cara tercepat mempopulerkan situs barunya adalah berkerjasama dengan berbagai penyedia layanan iklan di socmed atau internet. Facebook, Google, Twitter bahkan Youtube sendiri juga tersedia layanan advertising ini. Tergantung kuat tidak modal perusahaan tersebut. Ya, pertempuran ini tentu tak terelakkan lagi.

Apalagi setelah saya mendapat informasi, perusahaan e-commerce yang sudah go public dan terdaftar di NASDAQ dengan nama JD ini semenjak bulan April 2015 sudah berkerjasama dengan salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Amerika, Ebay. JD telah menjadi perusahaan raksasa. Tak berbeda dengan Alibaba yang juga sudah berkerjasama dengan Amazon.

Hanya saja, keriuhan perang e-commerce ini mengingatkan saya akan hadirnya mall offline di Jakarta. Dari ratusan mall di Jakarta ini, ada satu departmen store tua yang mampu bertahan dari gempuran hadirnya mall-mall baru ini. Ia adalah SARINAH dept. store.

Sarinah sampai detik ini tetap eksis karena ia satu-satunya pusat perbelanjaan yang masih memberikan satu lantai khusus untuk produk-produk seni lokal dan UKM Indonesia. Ada ‘pembeda” yang jelas dan menjadikannya bertahan sejak tahun 1967-an.

Apakah kelak masuknya JD yang berkolaborasi dengan Ebay juga akan melakukan trik yang sama? Maksud saya, apakah juga memberikan ruang untuk penjualan barang seni dan UKM lokal Indonesia? Apalagi satu-satunya situs e-commerce yang menjual produk seni dan UKM Indonesia Toko ON dari IndosatM2 sudah tidak berlanjut operasinya. Padahal ini sangat unik dan potensial mengingat jejaring UKM di Indonesia sangat luas dan kuat.

Ya, kita masih sama-sama menunggu untuk produk-produk UKM ini.

Hanya saja, kembali ke pembahasan konsep e-commerce B2C (bussiness to costumer), memang terdapat kelebihan pada sistem ini. Khususnya untuk para konsumennya. Karena dalam bentuk ini, online store dapat mengontrol operasional secara penuh. Contohnya pada sistem pengiriman atau deliverynya.

Contohnya dalam kerjasama JD dan Ebay ini, perusahaan ini ternyata akan memakai jurus marketing yang serupa dengan yang dilakukannya di Beijing. Yaitu sistem “Belanja Sekarang, Besok Tiba”.

Saya dengar, sistem ini sudah dipersiapkan matang-matang oleh JD.id semenjak resmi masuk ke Indonesia. Walau pun untuk sementara, masih berkisar pada wilayah Jadebotabek. Namun saya rasa tidak terlalu sulit untuk mengembangkan ke wilayah lain. Mengingat jika kita cek informasi via mesin pencarian, JD grup ini sarat pengalaman dengan sistem distribusi langsungnya. Mudah bagi kita untuk menemukan contoh foto-foto kendaraan paket milik grup JD itu sendiri.

[caption caption=”Armada Distribusi Paket dari JD.com”]

[/caption]Sistem distribusi ala JD ini sudah dipastikan akan menjadi tantangan berat untuk e-commerce lokal yang sudah atau baru berdiri di Indonesia. Mengingat sistem ini sangat menggiurkan dan menggoda bagi para calon konsumer untuk memutuskan memilih situs online dalam kegiatan belanjanya.
Apalagi dalam pengalamanan saya mencoba membeli barang elektronik via situs e-commerce, waktu tercepat barang sampai ke rumah saya adalah dua hari. Padahal rumah tidak jauh-jauh amat dari pusat kota Jakarta, masih wilayah Jabodetabek.

Nah, bagi para customer, suka tidak suka–kehadiran www.JD.id tentu merupakan sebuah keuntungan dan pilihan tambahan tersendiri. Semakin padat perusahaan online yang hadir, semakin banyak peluang harga diskon dan promosinya.

Bahkan untuk JD.id sendiri, dalam masa pembukaan versi Indonesia ini, boleh kita cek beberapa contoh harga “miring” untuk produk-produk yang di jualnya.

Disitus JD versi Indonesia ini–Iphone 6S yang dilego pada harga 9,5 juta, Sony PS4 seharga 4,8 juta dan bagi penggila Ipad mini seri 4—tampaknya baru di situs JD.id yang sudah menjualnya. Wah wah wah… Cocok buat para “budak” Apple yang fanatik. Hahaha.

Akhir kata, kehadiran JD di Indonesia ini tentu memberikan bermacam sudut pandang. Bisa menjadi ancaman atau peluang. Ancaman jika memang hendak bersaing head-to-head dan menjadi peluang– jika ternyata memilih merangkul dan berkolaborasi. Tak berbeda dengan Tokobagus dan Berniaga yang kini bersatu dalam platform yang kini bernama OLX (Online Exchange)-nya.